Sabtu, 11 April 2009

kopersi mendali mas


Koperasi mendali mas adalah salah satu sarana untuk ikut serta memajukan usaha sandal di banaran,di mana koperasi ini membantu anggotanay dari sisi permodalan yaitu dengan memfasilitasi pengrajin untuk dapat mencari tambahan modal dengan cara kredit lunak lewat bank, dan juga iku serta menyadiakan bahan baku untuk anggota dan ikut pula membantu memasarkan produknya lewat koperasi,untuk kualitas rata-rata berkualitas sedang
untuk pengiriman:pengepakan dengan menggunakan plastik dan juga karung plastik
pemesanan bisa lewat sms ke no.081326933253 an,ludi
barang yang di pesan akan segera di produksi apa bila kami telah memperoleh konfirmasi berupa transfer 50%dari nilai harga barang yang di pesan dan jangka waktu barang jadi dari mulai pemesan tergantung apakah kami sedang banyak menerima orderan barang, barang akan segera dikirim apa bila telah jadi dan kami telah menerima pembayaran secara tunai, hal ini terpaksa kami lakukan karena modal kami yang ter batas.
untuk besarnya ongkos kirim ditanggung oleh pembeli,dan akan di kirim sesuai dengan jasa kurir yang di tunjuk oleh pemesan.












a

Selasa, 31 Maret 2009

kendala yang dihadapi

Setiap orang atau usaha yang di jalankan pasti akan mendapatkan halangan dan rintangan,begitu juga dengan usaha sandal bandol yang kami jalani banyak halangan dan tantangan yang kami hadapi terutama menyangkut masalah bahan baku

1.Bahan baku
Selama ini bahan baku yang kami pergunakan adalah bahan limbah dari pabrik besar,dan hal ini cukup menyulitkan kami dalam menjaga kualitas produk kami,karena kami tidak bisa mengontrol bahan baku yang tersedia,sehingga secara kualitas bahan kami kalah di banding merk-merk ternama semacam carvil,bata,dan yang semisalnya dari perusahaan yang besar,dan hal ini turut berpengaruh terhadap pangsa pasar kami dimana kami cukup kesulitan untuk dapat menggaet konsumen dari kalangan menengah atas,dan kesulitan bahan baku ini juga ikut memppengaruhi produktifitas kami dimana kami tidak mampu menyediakan bahan baku secara kontinyu sehingga terkadang kami harus berhenti hanya karena bahan baku yang tidak ada,seperti halnya masalah karet bekas produksi ban (bleder),dengan adanya krisis global dan pegurangan jumlah produksi ban mobil membuat kami kesulitan karet bekas produksi ban sebagai bahan baku alas sandal kami,semakinsulitnya bahan baku membuat harga menjadi naik secara otomatis berpengaruh terhadap prosentasi keuntungan yang kami dapatkan karena sulitnya kami menaikan harga jual membuat keuntungan yang kami peroleh pun semakin kecil hal ini menyulitkan kami untuk bertahan dalam usaha yang kami kelola.
2.Model
Terus terang tidak adanya basik ilmu yang berkaitan dengan masalah disainer,terpaksa kami menjiplak model sandal dari merk-merk ternama yang bisa kami ikuti,terkadang hal ini malah justru membuat kami kesulitan untuk menyesuaikan dengan produk yang kami hasilkan karena berbeda dalam hal bahan baku yang kami pakai.
3.Alat produksi
selama ini alat produksi yang kami pake mayoritas hasil rakitan dari daerah kami sehingga bagi kami masih mengalami kesulitan untuk meningkatkan produksi maupun kualitas yang berimbas pada sulitnya untuk membuat model-model sandal yang bisa lebih baik lagi dan pangsa pasar yang mungkin masih kelas menengah kebawah,sehingga kamipun mengalami kesulitan untuk bersaing dengan produk lain yang mungkin secara model lebih baik dari produksi kami.
4.Pemasaran
Selama ini pemasaran hasil produksi kami selalu melalui pihak ke 3 sehingga kami kesulitan untuk bisa menilai pasar yang dapat berguna bagi kami dalam peningkatan kualitas produk kami,selama ini model yang kami keluarkan rata-rata bisa bertahan hingga jangka waktu yang cukup lama hal ini berimbas jarangnya kami mengeluarkan model-model baru karena bagi kami selama model tersebut masih laku dan masih banyak di minati orang maka hal itu kami pertahankan paling tidak ikut membantu biaya produksi karena setiap kali kami mengeluarkan model baru secara otomatis kami harus mengeluarkan kos yang tidak sedikit untuk hal tersebut.

Rabu, 18 Maret 2009

Elang Bondol Di Kepulauan Seribu Terancam

Benua asia dihuni sekitar 90 jenis raptor dan sekitar 71Â jenis raptor diurnal berada di indonesia dan sekitar 15 jenis merupakan jenis yang endemik di indonesia bahkan beberapa endemik pulau, seperti Elang Jawa(Spizaetus bartelsi). Semua jenis raptor di indonesia telah dilindungi peraturan negara, misalnya undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta PP.7 dan 8.

Tentang Elang Bondol

sub species;

Elang bondol terbagi menjadi 4 sub species yaitu, H.i.flavirostris. Pulau solomon H.i girenera, MOLUCCAS, NEW GUINEA, Bismarck Archipelago, dan AUSTRALIA; H. i. indus: PAKISTAN, INDIA, dan SRI LANKA,  CHINA; H. i. intermedius: Malay Peninsula, GREATER dan LESSER SUNDAS, SULAWESI, PHILIPPINES, and SULA ISLANDS(http://www.globalraptors.org). Elang bondol berukuran sekitar 45 cm. Elang bondol memiliki warna putih dengan coretan hitam vertical dari kepala, leher sampai perut dan coklat kepirangan pada bagian punggung sayap sampai ekor. Elang bondol memiliki kebiasaan terbang melayang-layang sambil mngintai mangsanya dan jika mangsanya sudah terlihat maka elang bondol akan langsung terbang menukik untuk mengangkap mangsanya.

Penyebaran

Daerah yang biasa di kunjungi elang bondol adalah daerah rawa, sungai, muara dan kepuluan sampai dangan daerah yang ketinggianya sampai 2800mdpl( di atas permukaan laut). Di indonesia sendiri elang bondol tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Bali.

Breeding

Cara berkembang biak elang bondol sama seperti halnya dengan burung-burung pemangsa lainya. Elang bondol akan membangun sarang pada pohon yang tinggi menggunakan ranting-ranting pohon yang disusun rapi. Elang bondol bertelur 2-3 butir telur tapi biasanya yang menetas dan berhasil hanya satu ekor yang akan terus di kawal sama induknya sampai bisa hidup mandiri.

Food and Feeding

Elang bondol dalam mencari hal mencari makan bukan hanya buruan yang masih segar. Tapi juga akan menangkap mangsa yang sudah menjadi bangkai yang biasanya adalah ikan-ikan yang mati dan mengambang di permukaan air.Selain memakan ikan, elang bondol juga biasa memakan katak, mamalia kecil dan insecta.

Keberadaan Elang Bondol di Kepulauan Seribu

Dari hasil survey yang dilakukan selama dua minggu hanya di temukan dua ekor elang bondol yang melintas dan itu di tempat yang berbeda(PPS Tegal Alur, 2004). Padahal jika kita datang ke tempat/habitat yang populasi elang yang masih bagus terutama untuk jenis elang bondol mereka dapat terlihat terbang berkelompok dalam jumlah banyak. Sedangkan yang ada di kepulauan seribu memang benar-benar sangat memprihatinkan. Elang bondol, burung yang menjadi maskotnya ibukota Negara keberadaannya di alam dalam ambang kepunahan. Kepakan sayapnya, lengkingan suara yang seperti merengek meminta seekor ikan untuk mengisi perut kini menunggu kata”kenangan” dan tarian indah di angkasa bak laying-layang hanya akan menjadi dongeng jika keberadan tidak ada yang peduli.

Ancaman Kepunahan

Program pemerintah dalam mensejahterakan kehidupan masyarakatnya memang kadang sering melupakan yang ada di sekelilingnya. Pembukaan pulau-pulau di kepulauan seribu untuk pemukiman otomatis akan ada penebangan-penebangan pohon yang ada di pulau. Pembukaan tempat-tempat wisata bahari juga memicu rusaknya habitat yang menjadi rumah elang bondol maupun elang yang lain. Selain rusaknya dan makin berkurangnya habitat untuk elang bondol adalah perburuan yang masih saja dilakukan. Walaupun itu bukan orang/masyarakat asli kepulauan seribu karena di kepulauan seribu yang mayoritas penghasilannya dari menjadi nelayan, setiap harinya juga banyak nelayan yang dari luar daerah. Perburuan untuk memenuhi kebutuhan pasar maupun hanya sekedar untuk dipelihara juga salah satu pemicu hilangnya keberadaan elang bondol di kepulauan seribu. Yang terakhir adalah lambanya elang bondol dalam masa berkembang biak. Elang bondol biasanya akan bertelur dua tahun sekali. Elang bondol bertelur 2-3 butir telur dan yang akan menetas biasanya satu ekor. Elang bondol akan mengasuh anaknya sampai bisa hidup mandiri. Setelah itu elang bondol akan kembali kesarang yang lama untuk kembali bertelur.

Haruskah mereka hilang tuk selamanya?

Burung-burung pemangsa adalah salah satu jenis yang perkembang biakanya lambat. Perburuan yang marak dan rusaknya habitat bagi elang bondol dan jenis elang lain adalah dari sekian banyak faktor penyebab kepunahan mereka. Peranturan pemerintah dan per undang-undangan yang sudah ada masih belum cukup untuk meredam tingginya eksploitasi terhadap burung-burung pemangsa seperti elang bondol. Kepulauan seribu termasuk daerah yang paling dekat dengan ibu kota Negara. Bahkan masih dalam wilayah DKI Jakarta. Tapi kenyataan di kalangan masyaraktnya nyaris tidak mengetahui akan hal itu. Sosialisasi yang kurang jadi satu penyebab ketidaktahuan di kalangan masyarakat. Padahal kunci utama dalam perlindungan kawasan beserta isinya adalah masuarakat sekitar yang memang tahu akan kondisi dan kebutuhan yang di perlukan.

Elang bondol yang menjadi maskot ibu kota Negara Republik Indonesia, Jakarta keberadaanya di alam nyaris punah. Bahkan di kepulauan seribu sendiri yang masih di wilayah Jakarta. Haruskah mereka punah begitu saja? Tanpa kepedulian maka tak dapat di pungkiri elang bondol akan hilang dari habitatnya untuk selamanya. Satu jenis yang menjadi kebanggaan masyarakat DKI Jakarta harusnya akan tetap lestari dan hidup bebas di alam mengaringi angkasa dan birinya langit. Bukan di kandang yang sempit yang untuk bergerak mengepakan sayap saja susah.

Pemerintah, masyarakat dan lembaga-lembaga terkait adalah pihak yang di harapkan bisa menyelamatkan mereka dan habitatnya

elang jawa

Lebak, -Populasi elang jawa di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) kian terancam punah, menyusul kerusakan kawasan hutan lindung akibat adanya penebangan liar yang dilakukan masyarakat.

“Saat ini populasi elang jawa yang ada tercatat sebanyak 19 ekor dan sebelumnya mencapai 200 ekor,” kata Petugas Pengendalian Ekosistem Hutan di Kawasan Tanaman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Dede Nugraha, Rabu.

Menurut dia, menyusutnya populasi burung yang dilindungi pemerintah itu disebabkan tanaman hutan yang dijadikan sumber makanan menepis bahkan beberapa titik menghilang akibat adanya penebangan liar.

Saat ini, menurut dia, elang jawa yang ada hanya tersebar di daerah Cikaniki, Blok Wates dan Gunung Endut sekitar kawasan hutan lindung TNGHS.

Oleh karena itu, pihaknya bersama petugas polisi hutan secara berkala terus melakukan monitoring keberadaan elang jawa, sehingga satwa langka itu tidak terancam punah.

Hingga saat ini, lanjut Dede, berdasarkan hasil monitoring di lapangan hanya sebanyak 19 ekor burung elang jawa yang masih berkeliaran di kawasan hutan konservasi TNGHS.

Akan tetapi, satwa langka itu hingga sekarang belum juga berkembang-biak karena adanya kerusakan kawasan hutan taman nasional itu.

Ia mengatakan, untuk mencegah kepunahan elang jawa di kawasan hutan Gunung Halimun-Salak, maka pihaknya selain melakukan pengamanan ketat juga memberikan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan konservasi.

Kawasan hutan lindung TNGHS yang meliputi tiga Kabupaten yakni Lebak, Bogor dan Sukabumi, banyak satwa spesies yang dilindungi pemerintah. Misalnya, elang jawa, owa abu-abu, macan tutul dan lainnya, katanya.

“Kami meminta masyarakat jangan sampai terjadi pemburuan satwa-satwa langka karena akan merugikan anak cucu kita,” ujarnya menambahkan.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengelolaan TNGHS wilayah Kabupaten Lebak, Pepen Rachmat, mengemukakan bahwa hingga saat ini spesies elang yang ada di hutan konservasi terdapat sebanyak 16 jenis, diantaranya elang jawa, elang hitam, elang alap-alap nipon, elang brontak, elang perut karet, elang alap-alap tikus, elang besar laut, dan elang alap-alap jawa.

“Spesies elang tersebut tetap dimonitor petugas, agar tidak terjadi kepunahan,” katanya. (Antara/Foto:TNG,Halimun)


glatik watu

Sore ini (29082008) kelompok studi burung liar (peCUK) melakukan pengamatan rutin di hutan kampus tepatnya berada di belakang stadion sepak bola ITS. Tempat ini merupakan sarang dan tempat beristirahat bagi para burung liar. Akan tetapi kondisi hutan kampus saat ini tidak seperti yang dulu, karena banyak lahan yang terbakar dan di babat untuk dijadikan arel persawahan. Namun kondisi yang seperti itu tak menyurutkan langkah kami untuk mengamati burung liar yang ada disitu. Pengamatan sore ini dilakukan oleh saya Anien, Arnold, Ajie, Eni, Idah, Haya, Arifin, Ardian , Burhan, Lintang dan Putut yang datang karena adanya undangan terbuka bagi yang ingin ikut pengamatan kali ini. Karena terlalu banyaknya orang yang ikut pengamatan dan tidak dibagi menjadi beberapa tim suasana pengamatan tidak begitu terjaga, padahal etika pengamatan kan tidak boleh berisik,..he..he..he

PECUK !!!
Di tempat yang biasanya dipakai sebagai tempat bakar2 singkong Burhan melihat sesosok burung di tengah danau atau rawa yang hampir mengering dan ternyata buruing itu adalah gelatik jawa (Padda orizyvora), yang selama saya bergabung di peCUK, belum pernah saya melihat burung tersebut. Usut punya usut, ternyata kemungkinan burung tersebut adalah burung yang sengaja dilepaskan setelah dipergunakan untuk praktikum sistematika hewan sekitar 2-3 tahun yang lalu, dan siapa yang nyangka, kalau ternyata burung ini mampu bertahan hidup di tempat tersebut yang tergolong habitat yang baru bagi dirinya..

selain gelatik jawa kami juga menemukan beberapa jenis burung yang lain, diantaranya :

1. Ardeola speciosa (Blekok sawah)
2. Ixobrychus cinnamomeus (Bambangan merah)
3. Ixobrychus flavicollis (Bambangan hitam)
4. Amaurornis phoenicurus (Kareo padi)
5. Gallinula chloropus (Mandar batu)
6. Streptopelia chinensis (Tekukur biasa)
7. Collocalia linchi (walet linchi)
8. Pycnonotus aurigaster (Cucak kutilang)
9. Prinia flaviventris (Perenjak rawa)
10. Dicaeum trochileum (Cabe jawa)
11. Lonchura leucogastroides (Bondol jawa)
12. Lonchura maja (Bondol haji)
13. Pycnonotus goaivier (Merbah cerucuk)
14. Collocalia fudnifaga (Walet sarang putih)
15. Tringa sp(Trinil)
16. Porzana cinerea(Tikusan)
17. Hirundo sp(Layang-layang)
18. Passer montanus (Gereja erasia)

Pengamatan kali ini selesai, ketemu di pengamatan minggu depan…

Vivat peCUK !!! Bersenang-senang

Written By : (A.N.I.E.N) and Posted by : (afien_4r/MIK_PECUK)

Bangau bluwok (Mycterea cinerea) di Teluk Lamong

Kamis 20 Maret 2008, aku dan mas Pioel mengerjakan Analisa Vegetasi mangrove di kawasan teluk Lamong Surabaya, yang meliputi pulau Galang, muara kali Sememi, Branjangan, Greges, dan kali Anakan. Selain analisa vegetasi mangrove, kami juga melakukan inventarisasi avifauna di kawasan ini.

Berangkat jam 08.00 WIB dari Keputih, sampai lokasi sekitar jam 09.00 WIB. Sekitar setengah jam kemudian kami baru mulai menaiki perahu dari kali Lamong Gresik menuju lokasi pertama, muara kali Sememi. Lokasi ini sulit dijangkau lewat darat sehingga diputuskan lewat jalur air. Sekitar 20 menit menyusuri kali Lamong, akhirnya terlihat pulau Galang yang terletak tepat di muara sungai. Sambil melewatinya, kami melakukan pengamatan dan tercatat jenis-jenis burung yang didominasi famili Ardeidae seperti Egretta garzetta, Butorides striata, Ardea purpurea dan Nycticorax nycticorax. Dengan jarak kurang lebih 1,5 km dari pulau Galang, tampak muara kali Sememi.



Sepanjang pantai menuju Sememi masih terdapat vegetasi mangrove meskipun tidak terlalu tebal, namun setidaknya masih dapat meredam gelombang yang menghantam garis pantai. Kurang lebih 100 meter dari muara kami berdua memicingkan mata, di tajuk Sonneratia sp. terdapat 3 ekor burung yang sedang bertengger. Satu ekor sudah tidak asing lagi (Egretta sp.) sedangkan dua ekor yang lain jarang sekali kami temui, perahu kami dekatkan ke tepian pantai. Setelah jarak kami cukup dekat, baru kami bisa mengamati lebih detail jenis tersebut, field guide (MacKinnon, red.) kami buka dan kami coba mengidentifikasi tenyata jenis tersebut adalah Bangau Bluwok alias Milky stork alias Mycteria cinerea. Setelah kami yakin bahwa memang benar bahwa jenis tersebut adalah Bangau bluwok, kami keluarkan kamera digital yang kami bawa, dan kami dokumentasikan temuan kami tersebut.



Satu hal yang membuat kagum, bahwa jenis ini ternyata masih bisa ditemui di pantai Surabaya di Teluk Lamong dengan kondisi yang sudah memprihatinkan, mengingat jenis ini populasinya terbatas hanya diperkirakan sekitar 5.500 ekor di seluruh dunia dan sebagian besar (5.000 individu) berada di Indonesia, dari jumlah tersebut hanya 400 individu yang terdapat di jawa sedangkan sisanya di kalimantan. Sebaran jenis ini meliputi negara-negara di Asia Tenggara khususnya yang pernah tercatat di Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand, dan Vietnam (iucnredlist.org).



Teluk Lamong sebenarnya merupakan habitat yang sesuai, burung ini tersebar di Indonesia dan Malaysia pada habitat yang berbatasan dengan mangrove, pada perairan dengan salinitas rendah. Umumnya mencari makan dihamparan lumpur daerah intertidal, rawa air tawar, kolam ikan, dan persawahan



Menurut IUCN, jenis ini dikategorikan dalam status Vulnerable (Vu) yang berarti rentan/ beresiko tinggi mengalami kepunahan. (ekho/pecuk)



This entry was posted on Wednesday, June 4th, 2008 at 7:05 am and is filed under Burung dilindungi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Indonesia Temukan Spesies Baru Burung Kacamata (Zosterops somadikartai)

Spesies jenis ini hanya terdapat di tiga pulau, yakni di Batudaka, Togian, dan Malange. Spesies baru burung kacamata ditemukan di Kepulauan Togian, Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Spesies baru burung kacamata ini telah diberi nama dengan sentuhan lokal, Zosterops somadikartai. Penemuan spesies baru ini telah dipublikasikan oleh ilmuwan Indonesia dalam edisi terbaru Wilson Journal of Ornithology pada Mater 2008. Ini merupakan salah satu jurnal ornitologi paling terkemuka di Amerika Serikat (AS).


”Para ahli dari Asia belum ada yang masuk jurnal itu, mungkin kita yang pertama,” ujar Direktur Eksekutif Indonesian Ornithologists’ Union (IdOU), Adam Supriatna, di Museum Zoologicum Bogoriense, Puslitbang Biologi, Cibinong, Bogor, Jumat (14/3).

Dalam terbitannya, Wilson Journal of Ornithology menjadikan kajian ilmiah burung kacamata togian sebagai artikel utama dan sekaligus halaman sampul. Ilustrasi sampul edisi tersebut pun dibuat oleh seorang ilustrator alam dari Yogyakarta, Agus Prijono. ”Ini suatu prestasi yang cukup luar biasa bahwa seorang ahli dari negara berkembang berhasil menampilkan ilustrasinya dalam majalah ilmiah terkemuka di AS,” cetus Adam.

Burung kacamata togian diperkenalkan di dunia ilmu pengetahuan 12 tahun setelah pertama kali diamati di lapangan. Penemuan lapangan dilakukan oleh Indrawan dan Sunarto, dua peneliti lapangan dari Universitas Indonesia (UI). Sementara, pertelaahan jenis baru ini diselesaikan melalui kerja sama dengan Dr Pamela Rasmussen dari Michigan State University, AS. Rasmussen merupakan seorang ahli taksonomi terkemuka di dunia yang mengambil spesialisasi spesies burung Asia.


Karya ilmiah penemuan burung kacamata togian tergolong luar biasa, karena merupakan kerja sama peneliti nasional dan internasional. Selain itu, mengabadikan salah satu ahli taksonomi bangsa Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa di dunia, yakni Profesor Somadikarta. Ia adalah Presiden Kehormatan untuk International Ornithological Congress XXV (pertemuan di Brasil pada 2010). Sebelumnya, Somadikarta juga pernah menjadi Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA) Universitas Indonesia pada 1978 hingga 1984 dan sebagai pejabat sementara Kepala Museum Zoologicum Bogoriense) pada 1962 hingga 1966 dan 1968 hingga 1970.


Kurang dari 5.000 ekor

Burung-burung kacamata merupakan kumpulan spesies yang bertubuh kecil, berwarna kehijauan, dan umumnya memiliki lingkar mata berwarna putih. Dalam berperilaku, mereka sangat aktif bergerak dalam kelompok-kelompok kecil. Indonesia memiliki berbagai spesies kacamata atau Zosterops. Di Sulawesi dan pulau-pulau sekelilingnya terdapat tidak kurang dari 10 satuan-satuan spesies dan subspesial (taksa) yang di dalamnya terdapat enam spesies.


Berdasarkan penelitian terdahulu oleh Rasmussen dan rekan-rekannya,, jumlah taksa di Sulawesi dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya bahkan mencapai 15 taksa, termasuk sembilan atau 10 spesies Zosterops. Sebaran berbagai taksa burung kacamata tersebut kebanyakan tidak tumpang-tindih. Beberapa spesies kacamata hanya terdapat di satu atau dua bagian Pulau Sulawesi.


Kacamata togian berbeda dengan spesies kacamata lainnya, karena tidak memiliki lingkaran putih di sekeliling mata. Mata spesies kacamata togian berwarna kemerahan, dan paruhnya lebih kemerahan dibanding yang lain. ”Ia hanya terdapat di tiga pulau, yakni di Batudaka, Togian, dan Malange. Diperkirakan, jumlahnya kurang dari 5.000 ekor,” ungkap salah seorang penemu, Indrawan.


Sayangnya, kata Indrawan, pada saat ditemukan, spesies kacamata togian harus langsung digolongkan ‘genting’ kepunahan (endangered), berdasarkan kriteria International Union for the Conservation of Nature Resources (IUCN). ”Walaupun di daratan utama Sulawesi burung-burung kacamata seringkali melimpah, burung kacamata togian ini ternyata hanya ditemukan di pesisir beberapa pulau kecil di Kepulauan Togian, Sulawesi Tengah,” keluhnya.


Berdasarkan penemuan spesies baru burung kacamata ini, kata Adam, maka Kepulauan Togian pun memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai ‘daerah burung endemik’ (DBE). Sesuai kesepakatan pengetahuan konservasi (menggunakan kriteria yang dibuat oleh lembaga pelestarian internasional BirdLife International), hanya dibutuhkan dua spesies endemik atau yang hanya terdapat di daerah tersebut dan tidak terdapat di daerah lain, agar suatu daerah ditetapkan menjadi daerah burung endemik.

Kelompok tim peneliti Indrawan sebelumnya juga telah menemukan spesies baru burung hantu di kawasan hutan Kepulauan Togian, sekitar empat tahun lalu. Spesies itu diberi nama Ninox burhani (Indrawan and Somadikarta, 2004). ”Penamaan itu diberikan untuk mengabadikan nama petani dan pemburu setempat bernama Burhan dalam rangka menghargai kearifan lokal,” jelas Adam.


Menurut Dr Adi Basukriadi, Dekan FMIPA UI, penemuan spesies baru ini akan mendorong upaya lebih besar bagi pengembangan taksonomi, yakni ilmu pengetahuan yang mempertelakan dan menggolongkan mahluk hidup, khususnya di negara tropis. Profesor Somadikarta, lanjut dia, telah mendemonstrasikan bahwa warga suatu negara berkembang pun dapat berkontribusi bahkan turut menentukan standar dunia. ”Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya masih dapat terus dijelajahi untuk menemukan berbagai spesies lain untuk ilmu pengetahuan,” tegasnya.


Direktur Puslit Biologi LIPI, Dr Dedy Darnaedi, menyambut baik pentingnya kerja sama internasional, terutama untuk membangun kapasitas ahli biologi dan ahli konservasi di Indonesia. Mengingat lajunya deforestasi serta degradasi hutan tropis dan humida, kata dia, maka penemuan spesies baru dan pelestariannya kini berpacu dengan waktu. ”Dalam negara megadiversiti ini, berapa banyak spesies yang akan punah sebelum sempat dikenal ilmu pengetahuan?” ingatnya. Eye

(www.republika.co.id )



 
purwokerto satria. Design by Wpthemedesigner. Converted To Blogger Template By Anshul Tested by Blogger Templates.